pada suatu hari nanti..

“..Pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak akan kurelakan sendiri..

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati..

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari..”

Itulah sepenggal sajak dari seorang penulis senior. Beliau adalah seorang Dosen yang mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Kalian tentu sudah mengenalnya. Ya, seorang bapak tua itu adalah Sapardi Djoko Damono.

Tidak dipungkiri lagi kalau aku adalah salah satu penggemar Beliau. Beberapa puisiku yang ada di notes Facebook terinspirasi setelah membaca kumpulan puisinya yang aku beli beberapa bulan yang lalu (sudah cukup lama, kira-kira 5 bulan yang lalu). Sepilihan Sajak Beliau terangkum manis dalam buku bertajuk “Hujan Bulan Juni”. Terdapat kurang lebih 108 judul sajak Beliau dalam buku itu.Bahagianya aku masih sempat memiliki salah satu karya Beliau..hhehehe..

Itulah beberapa ulasan singkat mengenai Beliau. Aku tidak akan membahasnya lebih dalam disini, mungkin lain waktu. Dari beberapa sajak beliau, aku tertarik pada sajak yang berjudul “Pada Suatu hari Nanti..”. Penggalan sajaknya sudah ku kutip diatas, tentu kalian juga bisa membacanya.

“Pada suatu hari nanti”, ini mengingatkanku akan sebuah “akhir perjalanan” hidup. Aku merinding dan takut setiap kali membacanya, akan lebih menyeramkan lagi saat aku mendengarkan lagunya. Lagu..? ya lagu, ini adalah salah satu judul sajak yang dirangkum apik dalam sebuah karya musik, “Musikalisasi Puisi”. Dinyanyikan oleh 2 orang ibu, mereka adalah Reda dan Tatyana. Dengan lantunan petikan gitar dan alunan biola.. *nambah serem aja deh pokoknya..

Setiap manusia, aku, kamu, dia, mereka, pasti akan menghadapi “pada suatu hari nanti” itu. Hari dimana penyesalan tak akan lagi berguna. Hari dimana airmata adalah pengiringnya. Hari dimana tidak akan pernah ada lagi “hari esok”..

Hari ini, aku menulis, kamu mungkin sedang bermain dengan temanmu, dia mungkin sedang kuliah seperti biasa, dan mereka mungkin sedang bertamasya ke sebuah pulau ternama di Indonesia. Bagaimana dengan “besok”..? Tidak akan pernah ada manusia yang tau apa yang akan terjadi besok. Tidak akan pernah ada.

Jadi teringat kata almarhum kakekku :
“..le, urip ki mung koyo mampir ngombe..” (nak, hidup itu hanya seperti mampir minum)

Memang benar, hidup itu seperti mampir ngombe, hanya sebentar. Aku, kamu, dia, mereka, hidup di bumi Allah yang sangat indah ini dalam waktu yang sekejap saja. Memikirkan itu semua membuatku bertanya, apakah kehidupan setelah itu jauh lebih menyenangkan atau malah lebih menyeramkan..?

Ada untaian kalimat yang pernah aku baca dari sebuah buku berjudul Gadis Jeruk karya Jostein Gaarder :
..bayangkan kamu berada di awal dongeng ini, suatu waktu miliaran tahun yang lalu ketika segala sesuatu diciptakan. Dan kamu boleh memilih apakah kamu ingin dilahirkan untuk hidup di suatu tempat di planet ini. Kamu tidak akan tahu kapan kamu akan dilahirkan, tidak juga berapa lama kamu akan hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun. Yang kamu ketahui hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir pada tempat tertentu di dunia ini, kamu juga harus meninggalkannya lagi suatu hari, meninggalkan segalanya. Ini mungkin akan menimbulkan duka yang dalam pada dirimu karena banyak orang berpikir bahwa kehidupan di dalam dongeng besar ini begitu indah sehingga sekedar memikirkan bahwa ini akan berakhir saja pun bisa membuat mereka mengucurkan air mata. Segalanya begitu menyenangkan disini, sehingga sangat pedih untuk membayangkan bahwa pada suatu ketika hari-hari tiada akan ada lagi..”

Kita sebagai manusia, hanya akan selalu bersyukur kepada Tuhan untuk hidup kita hari ini. Tuhan bisa saja memanggil kita lebih segera, mungkin besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, bahkan 15 menit lagi pun bisa..

Hari ini adalah harimu, lakukan yang terbaik. Bahagiakan sebanyak mungkin teman-teman dan orang-orang disekitarmu. Sebelum “pada suatu hari nanti” itu datang dan membuatmu menghilang dari bumi..

Jum’at. 07:07. 12 Maret 2010.

________________________________________________________________________________________________________________
Untuk kalian yang ingin membaca “Hujan Bulan Juni” dan “Gadis Jeruk”, bisa pinjam ke saya. Cukup hubungi saya di : 08564.355.0.996 (Jogjakarta). It’s Free..
Terimakasih..

*Dan untuk Almarhum Kakek, semoga engkau bahagia berada di sisi terbaik-Nya..Amien..

Advertisements

5 thoughts on “pada suatu hari nanti..

  1. @kis-nanana : kisna..nanana nya jadi banyak..hheheu..

    iyaa sist.. lakukan yang terbaik sampai saatnya nanti tak ada lagi hari esok..

    smangadh..

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s